Partner of FM World Whatspp : 081261775397
Pembayaran dengan Transfer BCA, Mandiri

Cerita Danto muncul di video musik John Legend

Jakarta (ANTARA News) – Pernah menonton video klip John Legend dan Chance the Rapper yang berjudul “Penthouse Floor”?¬†

Seorang aktor muda Indonesia muncul dalam video musik tersebut, berbaur di tengah kerumunan orang yang bergoyang mendengarkan permainan piano John Legend. Pengalaman itu tak terlupakan bagi Prabowo Dwiananto yang akrab disapa Danto.

“Suara John Legend sedekat itu benar-benar indah,” kenang pria yang kini merintis karir di Hollywood.
¬† imageDanto (kedua dari kiri) di video klip John Legend “Penthouse Floor” (HO/ist)

Pria kelahiran Jakarta 22 April 1995 itu berhasil ikut dalam pengambilan gambar video klip John Legend setelah mengajukan portofolio berupa kompilasi video-video aktingnya.

Debut aktingnya dimulai pada usia 17 tahun sebagai Puck dalam “A Midsummer Night’s Dream” karya Shakespeare di Taman Ismail Marzuki.¬†Setelah lulus dari Binus School Simprug, Danto pindah ke Amerika Serikat pada 2013 untuk melanjutkan pendidikan di AMDA College and Conservatory of the Performing Arts.

Ia terlibat dalam berbagai proyek, termasuk di antaranya dua film independen yang akan tayang tahun ini, “Kiss My Ashes” dan You Should Meet My Son 2!”.

Dalam film horor “Kiss My Ashes” yang disutradarai Sam Salerno, Danto berperan jadi penindas di sekolah bernama Taylor. Sementara di film berikutnya, dia kedapatan karakter remaja sinis bernama Greg.¬†

Film yang disutradarai Keith Hartman itu tayang dalam bagian dari My True Colors Arts Festival di Brooklyn bulan ini serta ditampilkan di Festival de Genero & Sexualidade no Cinema di Rio de Janeiro serta OutFest Peru.
¬† imageDanto di film “Kiss My Ashes” (HO/ist)

Cita-cita
“Saya pindah ke AS karena saya ingin terus mengejar cita-cita sebagai penampil yang dikenal sedunia,” tutur Danto melalui surel pada ANTARA News, mengenai alasannya merintis karir jauh dari kampung halaman.

Proyek pertamanya di Negeri Paman Sam adalah film pendek komedi musikal “Smile: A Musical”. Danto berperan sebagai salah satu penari di nomor musik utama film tersebut.¬†

“Saya direkrut untuk proyek ini caranya sama dengan video klip John Legend,” kata bungsu dari dua bersaudara itu.

Danto menuturkan proses audisi untuk masuk industri hiburan di Amerika Serikat lebih komprehensif ketimbang Indonesia, berdasarkan apa yang ia ketahui dari teman-temannya yang berkecimpung di sinetron dan film Tanah Air. 

“Mereka biasanya dikenalkan langsung dengan orang-orang yang terlibat dalam proyek-proyek yang ingin kasting mereka,” kata penggemar film-film komedi romantis.

“Di AS, mendapatkan agen atau manager bisa membantu karir, tetapi orang-orang yang baru masuk industri seni dan hiburan bisa cari sendiri kelas akting atau acara ‘networking’ atau ‘film screenings’ atau bahkan daftar ke situs-situs yang menampilkan audisi-audisi yang tersedia untuk daerah tersebut.”

Setelah lulus dari AMDA College and Conservatory of the Performing Arts, Danto fokus untuk mengembangkan kemampuannya berakting dan bernyanyi. 

Sebelum pindah ke AS, Danto kerap memperdengarkan bakat menyanyi di acara sekolahnya. Kini dia sudah tampil di konser-konser musikal, salah satunya lagu “Waving Through a Window” dari musikal “Dear Evan Hansen”.

“Saya jatuh cinta saat melihat musikal tersebut di New York. Untuk mendapatkan kesempatan menyanyikan lagu tersebut adalah kehormatan bagi saya,” kata Danto yang tak pernah belajar menyanyi secara formal.

Di sela itu, ia juga menulis novel komedi romantis untuk mengasah kualitasnya sebagai seorang penampil.

“Saat kuliah saya diajarkan untuk menulis, dan salah satu guru saya bilang bahwa mempertajam ketrampilan menulis akan membantu saya menjadi penampil yang lebih baik karena saya akan mengerti materi-materi yang harus saya pelajari lebih baik.”

Novel berjudul “American Stunner” itu menceritakan dua orang yang mencoba berkarir sambil jatuh cinta dengan satu sama lain di New York.¬†

“Film-film favorit saya alirannya romantis, seperti ‘When Harry Met Sally’, ‘Annie Hall’, ‘Pretty Woman’ dan ‘La La Land’. Saat menonton film-film tersebut, saya suka berpikir, ‘Wah, saya sangat ingin tahu isi pikiran karakter-karakter ini lebih dalam’.”

Saat novelnya rampung, Danto berencana mencari agen sastra di AS sekaligus memperluas jejaring, atau menerbitkannya sendiri tanpa editor (self-publishing).

Harapan
Beberapa tahun terakhir ada wajah-wajah familier aktor Indonesia yang muncul di film-film Hollywood. Ada Joe Taslim yang berakting di “Fast & Furious 6” juga Iko Uwais, Yayan Ruhian dan Cecep Arif Rahman di film “Star Wars: The Force Awakens”. Yayan dan Cecep tahun ini juga bermain dalam film “John Wick: Chapter 3” yang dibintangi Keanu Reeves.

Sosok-sosok familier yang kini mewarnai Hollywood menyuntikkan semangat bagi pengagum Timothée Chalamet itu untuk bisa mengikuti jejak mereka.

“Saya sangat senang melihat aktor-aktor, seperti Iko, Yayan, dan Joe berhasil di Hollywood karena saya percaya bahwa orang-orang Asia Tenggara perlu direpresentasikan lebih banyak lagi.”

Ke depannya, Danto punya impian untuk bisa bekerjasama dengan Ryan Murphy, kreator serial televisi “Glee” dan “American Horror Story”, yang karyanya sangat ia gemari.

“Saya juga ingin membintangi seri televisi komedi situasi. Sejak kecil, saya suka menonton acara-acara seperti ‘That’s So Raven’, ‘Brooklyn Nine-Nine’, dan ‘How I Met Your Mother’. Mendapatkan peran utama di acara yang mirip dengan seri-seri tersebut adalah mimpi utama saya,” demikian Danto.

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Priyambodo RH
COPYRIGHT © ANTARA 2018