Partner of FM World Whatspp : 081261775397
Pembayaran dengan Transfer BCA, Mandiri

Ini Indonesia

Saya sungguh-sungguh berharap Indonesia menjadi pelopor perdamaian di dunia, pelopor negara yang mampu hidup harmonis dalam merayakan kebhinekaan — dalam pengertian yang sesungguhnya, bukan toleransi belaka yang semu — dan pelopor negara yang menunjukkan bahwa ini mungkin. Saya berharap Indonesia tetap teguh menjadi negara dengan nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Mungkin Indonesia bukan negara dengan banyak teknokrat dan insinyur yang melahirkan banyak inovasi seperti Jerman, India dan Iran. Mungkin Indonesia bukan negara dengan banyak orang yang cerdas berdagang dan menghasilkan penemuan di bidang pengobatan seperti Israel dan China. Mungkin Indonesia bukan negara dengan disiplin seperti Jepang atau etos seperti Rusia. Mungkin Indonesia juga bukan negara dengan para pemikir atau sastrawan seperti Inggris, AS, dan Perancis. Mungkin drama-drama serial kita tidak akan semendunia drama-drama Amerika Latin, Taiwan, Korea dan Turki. Mungkin karya-karya seni kita tidak akan sekeren seniman-seniman Italia dan Belanda. Mungkin sepakbola kita pun tidak akan sekeren Brazil, Argentina dan Spanyol. Bahkan mungkin tingkat literasi kita sangat jauh dari Malaysia, Singapura dan Brunei. Seperti murid saya yang bernama Luki. Dia disleksia. Dia sangat sulit membaca. Tapi, dia punya kecerdasan audio yang cukup baik. Mungkin dia akan memimpin suatu tarekat sufi dan mengajak murid-muridnya hidup sederhana dan penuh rasa syukur dengan bercocok tanam di kaki Gunung Puteri. Jadi, mungkin Indonesia bukan ditakdirkan sebagai bangsa dengan keistimewaan-keistimewaan pada bangsa-bangsa itu. Ingatlah bagaimana kita bisa merdeka. Apa yang telah mempersatukan nenek moyang kita dalam Sumpah Pemuda. Kita ini punya segala kekayaan dalam sumber daya alam, tapi kita pernah mengalah selama berabad-abad di bawah penjajahan. Kalau memang kita adalah bangsa babu dan bangsa buruh, lalu kenapa merasa sedih? Jika dunia adalah sebuah pabrik, maka dunia juga membutuhkan babu-babu dan buruh-buruh. Namun, Indonesia punya kelebihan lain. Babu-babu dan buruh-buruh punya kelebihan lain yang tak dimiliki kaum majikan. Bayangkan bahkan Allah mengasihi mereka yang disebut budak-budak atau hamba-hamba Allah. Kenapa oh kenapa? Coba renungkanlah. Jadi… Demi Tuhan Pak, tolong hentikan semua sentimen keagamaan Bapak, bahwa hanya Muslim yang berjasa besar buat bangsa ini. Ingat, ingatlah manakala sejumlah pemimpin Muslim saat itu mengalah dalam Piagam Jakarta, untuk apa dan mengapa. Please, Kawan, cuci muka kalian, dan buka mata kalian lebar-lebar ini Indonesia, bukan Pakistan, Afghanistan, Suriah, Iran, Arab Saudi atau bahkan bukan Brunei dan Malaysia. Demi seluruh kakek nenek saya yang telah berjuang untuk negeri ini: saya mengimani 12 Imam seperti orang-orang Syiah, ada sepupu saya menempuh jalan Manhaj Salafy, ada sepupu saya yang menerima kepemimpinan Mirza Ghulam Ahmad, ada sepupu saya yang menerima otoritas Paus di Vatikan, ada sepupu saya yang berbahasa Batak dan menyembah Tuhan Yesus, dan ada sepupu saya yang berbahasa Bali dan sembahyang di pura. Demi Tuhan, saya mencintai mereka, seperti itu pula saya mencintai kalian semua apapun identitas agama kalian. Saya heran jika kalian tidak bisa mengasihi sesama tanpa melihat agamanya apalagi kalian ini orang Indonesia :'( Ada begitu banyak negara dengan kemajmukan, tetapi Saudaraku, hanya sedikit bangsa seperti kita, INDONESIA, yang berjuang bersama-sama melawan kolonial imperial dengan keberagaman kita, yang lagu-lagu kebangsaannya diciptakan oleh beragam jenis musisi dengan beragam agama dan ideologi. Hanya sedikit bangsa yang punya filosofi bangsa sekeren Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Hanya sedikit bangsa yang dipisahkan oleh jarak lautan dan terdiri dari lebih 13 ribu pulau tapi ngotot menjadi suatu negara kesatuan. Ini benar-benar suatu bangsa gila yang ingin bersatu di bawah bendera yang sama, bahasa yang satu, meski yang satu mengatakan syirik kepada yang memasang sesajen dengan kemenyan, yang lain tetap memohon berkat di kuburan-kuburan keramat kemudian keduanya mau bertemu pun harus melewati gunung berapi dan lautan berbadai dulu baru bisa berpelukan. Oh, God, bangsa gila! Kawanku yang Syiah buanglah segala perseteruan di antara kalian, jangan impor konflik Timur Tengah kalian di sini. Terimalah kenyataan satu sama lain memiliki fatwa marja yang berbeda, ini negara Pancasila, bukan negara Sunni, biasakan menikmati Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika dari dalam kelompok kalian sendiri. Kawanku yang Salafi, tak usahlah berharap negeri ini akan menjadi seperti Saudi, cukuplah bersyukur kalian bebas berniqab, memakai celana cingkrang dan tidak melakukan tahlilan maupun maulidan. (Kawanku yang HT dan NII dan Ikhwanul Muslimin: lupakanlah untuk mengubah Pancasila dan Bhinneka Tungal Ika, lupakanlah, lupakanlah atau kalian akan dihantui roh-roh para leluhur Nusantara ini dengan segala cara) Kawanku yang NU, yang sabar yah, kalian sudah sangat keren padahal kalian kan umat yang sangat besar Misalnya nih, bahkan bisa mengerti teman-teman dari kelompok Syiah tertentu yang punya tradisi mengutuk beberapa sahabat Muhammad, karena kalian sadar ini Indonesia bukan negeri Sunni. Kawanku yang Muhammadiyah, please pertahankan etos kalian dalam bidang pendidikan dan kesehatan, jangan membawa mundur organisasi modern ini menjadi begitu sektarian. Jujur saya masih teramat bangga dibesarkan olehmu, Muhammadiyah. Kawanku yang Katholik pertahankanlah toleransi kalian. Saya tak bisa mengatakan lebih panjang dari ini. Kawan yang Protestan, cukuplah tidak mengimpor segala-galanya dari AS dan kaum neoimperialis tempat asal-muasal gereja-gereja kalian: sadarilah ini Indonesia, maka jangankan Unitarian, kaum Mormon dan Kesaksian Yehovah juga punya hak di negeri ini seperti orang-orang Kaharingan, Parmalim, Sunda Wiwitan, Kejawen, Parmalim, Samin, ratusan agama asli di Papua dst Kawanku yang Buddhis, yang Hindu, yang Khonghuchu, yang Bahai, yang Sikh, yang Ahmadiyah, yang menganut agama nenek moyang: terimakasih atas kesabaran kalian, Tetaplah tersenyum, tetaplah merangkul mereka yang membenci, atau yang menghina kalian, atau yang pernah menzalimi kalian. Terimakasih untuk candi-candi kalian yang indah yang menjadi tujuan wisata negara ini, juga kesenian yang telah kalian peliihara sehingga menarik wisatawan. Terimakasih untuk karya Indonesia Raya dari salah satu kalian, terimakasih untuk film-film Bolywood dan kungfu yang kalian impor untuk menghibur kami, Terimakasih untuk pabrik-pabrik yang kalian bangun, dan pasar-pasar yang kalian berdagang di sana untuk memenuhi kebutuhan kami. Terimakasih dan jangan pergi dari sini: mana mungkin kami tahan tanpa hiburan dari Bolywood dan tidak membeli mi bakso lezat! Sekarang kalian mengerti kan maksud saya. Belilah hijab syari’e berikut gamisnya menurut fesyen terbaru dengan warna favorit kalian, atau kenakanlah sanggul dengan kebaya kutu baru seperti tren terbaru, tapi berhentilah saling mengejek atau saling menngatakan inilah cara yang terbaik. Kalian berdua pasti sama-sama senang ke salon, dan alat kecantikan yang kalian cari tidak semuanya produksi Wardah, Sari Ayu atau Mustika Ratu, melainkan dari Korea, Jepang atau Eropa. Bahkan kalian memasang alis palsu walau kalian tahu menurut yang kalian yakini itu haram, Setelah menjemput anak kalian di suatu SDIT dan yang lain dari suatu sekolah Katholik, kalian ngerumpi bareng di acara reunian tentang cowok paling ganteng di sekolah waktu itu…. Walau Muslim dan Kristen di Palestina merayakan Natal, tetapi di sana tak ada grup musik semacam Gigi yang salah satu personelnya beragama Hindu dan ikut melantunkan versi lagu kasidahan Perdamaian; Walau Libanon punya penyanyi-penyanyi Kristen keren dan anak-anak Muslim menyanyi saat perayaan Natal di gereja, tapi mereka tak punya dangdut yang melantunkan lagu religius Rhoma Irama sampai lagu-lagu Pantura. YA, walau dunia lain punya Niyaz, lagu-lagu penuh kedalaman makna seperti lagu-lagu India dan OST film-film Cina, tapi kita masih punya kelompok-kelompok musik macam Kyai Kanjeng, Sujiwo Tejo, yang tak segan menyanyikan lagu-lagu Natal, dan paduan-paduan suara gereja yang tak segan menyanyikan lagu-lagu karya WaliSongo. Demi Bapa di Surga, demi Sang Hyang Widhi, demi Allah, cuma di Indonesia saya menemukan di setiap pojok tertentu pasar tradisional pedagang perlengkapan sejumlah keperluan untuk segala macam upacara pemakaman meskipun si mayit akan dimakamkan di blok sesuai identitas agama di KTPnya. Kalian akan merangkai bunga dengan hitungan atau cara yang sama, membantu memasak untuk keluarga yang berduka atau ikut melayat, tak peduli agama si mayit: Masa’ cuma karena Ahok-Anies kalian mau menghapus tradisi INDAH ini? Kalau kalian bercermin hari ini: kalian mungkin tiba-tiba menyadari kalau kalian ini jangan-jangan keturunan Nabi Muhammad, Konfucius, Yahudi, orang Iran, dan penjajah kolonial sekaligus. Memang kalian tahu siapa nenek-enek kalian? IYA, jangan-jangan mereka keturunan pengungsi Iran Syiah jaman dinasti Abbasiyah yang waktu itu lari ke Indonesia, gundik Meneer Londo, keturunan gundik Kong A-Hok, gundik Wan Habib, dan keturunan gundik Yahudi yang waktu itu mampir Indonesia naik kapal kompeni. Demi Tuhan YME, kita sesungguhnya adalah sedikit dari bangsa-bangsa dengan kecerdasan spiritual luarbiasa yang masih mampu menyintas zaman dari imperialisme ke imperialisme dan survive dari banyak genosida dan perbudakan. Demi para peri dan mambang yang berdiam di pohon-pohon bambu dan beringin juga rawa-rawa: Kalian tak ingin arwah-arwah para leluhur bangkit dari kubur mereka mengghantui kalian kan? Jangankan melihat pocong dan kuntilanak, Tiba-tiba mencium aroma kemenyan dan wangi air mawar dan kembang melati di tengah malam Jumat saja kalian sudah merinding dan buru-buru membaca ayat kursi atau mengambil salib. Boro-boro baca atau sempat mengambil, tiba-tiba malah sudah lupa duluan dan gemetaran lalu pingsan atau ambil langkah seribu. Hehehe. INI KAN INDONESIA. kalau hantunya wong jowo mana paham bahasa arab… Artikel by : Gayatri Muthahari