Partner of FM World Whatspp : 081261775397
Pembayaran dengan Transfer BCA, Mandiri

Prof Asvi: Soekarno korban G30S 1965

Jakarta  (ANTARA News) – Pakar sejarah dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Prof Dr Asvi Warman Adam mengatakan bahwa Presiden pertama RI Soekarno adalah  korban yang dirugikan dari peristiwa G30S 1965.

“Soekarno adalah tokoh yang paling dirugikan dari peristiwa ini karena ia kehilangan jabatan tertinggi,” kata Asvi di Auditorium LIPI, Jakarta, Kamis.

Pada orasi ilmiahnya saat pengukuhan dirinya sebagai profesor riset di LIPI, ia mengemukakan bahwa ada tujuh figur atau kelompok yang menjadi korban G30S, salah satunya adalah sosok Soekarno.

“Soekarno juga dituduh, namun rute perjalanannya pagi hari tanggal 1 Oktober 1965 membuktikan bahwa Bung Karno tidak mengetahui rencana gerakan tersebut,” katanya.

Ia menambahkan, bahwa G30S dijadikan sarana untuk mengambil alih kekuasaan dari Soekarno.

Baca juga: LIPI kukuhkan tiga profesor riset
Baca juga: MPR: Pancasila bukan milik perseorangan atau rezim

“Rangkaian peristiwa dari 1 Oktober 1965 sampai keluarnya Supersemar 1966, penahanan 15 menteri, pembubaran Tjakrabirawa dan penguasaan pers oleh tentara, memperlihatkan bahwa kekuasaan itu memang direbut dari Soekarno secara bertahap,” paparnya.

Kesimpulan tersebut didapat setelah pihaknya meneliti berbagai dokumen tentang G30S dari sejak tahun 1965 hingga 2017.

“Orasi ini membahas tulisan-tulisan yang telah terbit mengenai G30S dari tahun 1965 hingga 2017,” ujarnya.

Menurutnya, pada masa Orde Baru, salah satu tokoh yang paling berperan untuk menulis sejarah G30S adalah Nugroho Notosusanto.

“Dalam jilid 6, sejarah nasional Indonesia yang disunting Nugroho Notosusanto diberikan legitimasi kepada Orde Baru sekaligus dilakukan desukarnoisasi (upaya mengurangi bahkan menghilangkan peranan Soekarno dalam sejarah),” katanya.

Salah satu hal kontroversial yang pernah dilakukan Nugroho selain mempersoalkan kelahiran Pancasila oleh Soekarno adalah menghilangkan sosok Soekarno dalam foto Proklamasi 17 Agustus 1945.

“Dalam buku Nugroho Notosusanto berjudul Pejuang dan Prajurit, pada foto Proklamasi 17 Agustus 1945 tidak tampak sosok Soekarno. Sejarawan Abdurrachman Surjomihardjo melakukan protes sehingga pada cetakan kedua, sosok Soekarno muncul kembali,” katanya.

Nugroho juga merupakan pemrakarsa pembuatan film G30S/PKI.

“Nugroho Notosusanto memprakarsai pembuatan film pengkhianatan G30S/PKI yang disutradarai Arifin C Noer tahun 1984,” katanya.

Selain itu, menurutnya para korban G30S baru mulai bersuara setelah jatuhnya Orde Baru.

Pewarta: Anita Permata Dewi
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2018